
Setelah 10 kali menjalani kemoterapi di RS Elisabeth Semarang, Bulik Tun meninggal, Kamis, 4 September 2008. Bulik dimakamkan di Sarean Taman, Madiun hari itu juga pas pukul 13.00 WIB. Aku gak sempat melihat Bulik sebelum dimakamkan karena langsung ke Sarean.
Setelah menunggu Dimas yang berangkat dari Denpasar dengan penerbangan pertama dan sampai di Maospati pukul 11.00 WIB, langsung upacara penutupan peti.
Bulik Ti tidak ikut ke makam. Bulik Ti di rumah Maospati. Yang ke makam Om Har, Ervan, Dimas, Putri, Om Ji, Mas Narto, Mas Ir, Elly, Boy (calon suaminya Putri), Diana (istrinya Dik Awang).
Rombongan dari Semarang belum datang ketika Bulik Tun ditaburi bunga. Rombongan Semarang 1 (Bapak, Bulik Mik, Dik Ida, Mas Wawannya Dik Ida, Dik Nina dan suaminya, Ellen) datang sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka langsung ke Sarean. Rombongan Semarang 2 (Dik Desi, Mas Woro, Dik Toro, Dik Awang, Mas Oo sekeluarga) datang sekitar pukul 15.00 WIB di Maospati. Pukul 16.00 WIB mereka juga ke Sarean.
Sedih, tapi aku tidak ingin mengenang Bulik Tun pas sakit. Yang ada di bayanganku tetap Bulik Tun yang gembira, lantang, dan selalu tertawa.
Ada yang membuatku berpikir lagi. Sekarang para bapak, bulik, paklik, om, bude, mbah, semua sudah sepuh. Padahal lapis kedua masih kocar-kacir dan tidak ada komunikasi lancar (paling tidak untukku). Kalau tidak solid, bisa kacau. Ada usulan supaya ke depan lebih bagus?
Foto: Dari kiri Boy (calon suaminya Putri), Dimas, Ervan, Om Har, Mbak Lis (putranya Bu Tarwo), dan ibunya Herman (kakaknya Mbak Lis).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar