DI Gua Kerep, Ambarawa.
28.12.08
Durian
Tidak lengkap jika ke rumah Wawan (Om, Mas) dan Evy tidak berburu durian. Padahal yang sangat kepengin Mas Narto dan Mas Ir. Jadilah Mama, Mbak Emy, Ibuk (nya Mas Wawan) mengantar ke depan rumah, di pinggir jalan. Depan rumah Wawan-Evy memang sentra durian, rambutan, dan pete. Satu durian Rp 50.000 disikat berdua. Masih ada satu juring tidak kuat, dibawa pulang.
Mengunjungi Evy, Wawan, Berni
Sragen 1
Jumat, 26 Desember 2008, berangkat pagi langsung ke rumah Elly. Alamatnya tidak ada, hanya ada RT dan RW. Di SMS juga cuma ada rute. Jadi, Tete bersama Om Ir naik becak untel-untelan karena dua orang ini sama-sama gendut, sambil membacakan SMS untuk Pak Becak. Sampai, disambut Mamanya Andin, Mbak Luki.
Ada Andin dan rapor Play Group ditunjukkan. Semua mendapat B kecuali menggunting K. Andin punya teman enam mbak di sekolah dan mas-mas. Semua mbak dia hafal tetapi teman laki-laki hanya disebut mas. Sekelas cuma 12 anak.
Ini foto-fotonya.
18.11.08
Kamar Mada
4.9.08
Bulik Tun Seda

Setelah 10 kali menjalani kemoterapi di RS Elisabeth Semarang, Bulik Tun meninggal, Kamis, 4 September 2008. Bulik dimakamkan di Sarean Taman, Madiun hari itu juga pas pukul 13.00 WIB. Aku gak sempat melihat Bulik sebelum dimakamkan karena langsung ke Sarean.
Setelah menunggu Dimas yang berangkat dari Denpasar dengan penerbangan pertama dan sampai di Maospati pukul 11.00 WIB, langsung upacara penutupan peti.
Bulik Ti tidak ikut ke makam. Bulik Ti di rumah Maospati. Yang ke makam Om Har, Ervan, Dimas, Putri, Om Ji, Mas Narto, Mas Ir, Elly, Boy (calon suaminya Putri), Diana (istrinya Dik Awang).
Rombongan dari Semarang belum datang ketika Bulik Tun ditaburi bunga. Rombongan Semarang 1 (Bapak, Bulik Mik, Dik Ida, Mas Wawannya Dik Ida, Dik Nina dan suaminya, Ellen) datang sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka langsung ke Sarean. Rombongan Semarang 2 (Dik Desi, Mas Woro, Dik Toro, Dik Awang, Mas Oo sekeluarga) datang sekitar pukul 15.00 WIB di Maospati. Pukul 16.00 WIB mereka juga ke Sarean.
Sedih, tapi aku tidak ingin mengenang Bulik Tun pas sakit. Yang ada di bayanganku tetap Bulik Tun yang gembira, lantang, dan selalu tertawa.
Ada yang membuatku berpikir lagi. Sekarang para bapak, bulik, paklik, om, bude, mbah, semua sudah sepuh. Padahal lapis kedua masih kocar-kacir dan tidak ada komunikasi lancar (paling tidak untukku). Kalau tidak solid, bisa kacau. Ada usulan supaya ke depan lebih bagus?
Foto: Dari kiri Boy (calon suaminya Putri), Dimas, Ervan, Om Har, Mbak Lis (putranya Bu Tarwo), dan ibunya Herman (kakaknya Mbak Lis).
18.4.08
Baca Puisi
14.4.08
12.4.08
Laut 1
Menyepi 2
Menyepi 1

Ada waktu untuk ngotot bekerja, ada waktu untuk melepas semuanya. Gua Kerep di Ambarawa menjadi tempat paling afdol untuk merontokkan sisa-sisa lelah bekerja. Apalagi sekarang taman di Gua Kerep sudah jadi. Cantik.
Waktu melekan di Gua Kerep bareng Om Ir, sepanjang malam diguyur hujan. meringkuk di bawah meja altar besar bareng sama cacing tanah yang juga ogah kena air hujan. Pagi-pagi cuci muka terus jalan-jalan di taman ini.
Ini Tete Endah, setengah mengantuk karena semalam tak bisa tidur.
Saat Bahagia

Ngotot banget ya Pak Mas Narto mbuka duriannya. Sebelum berangkat berburu durian, Pak Mas Narto dan Om Ir sudah cek tekanan darah. Begitu mendekati normal langsung tancap gas makan durian. Tete Evy, Om Ir, Pak Mas Narto, dan Tete Ellen kayaknya sedang berusaha membedakan rasa durian yang satu dengan lainnya.
Berusahalah Pak Mas Narto!
11.4.08
Saat Bahagia

Ramai-ramai makan durian di Gunung Pati. Dari kiri ke kanan. Pak Mas Narto, Bude Emy, Tete Evy, Om Wawan, Om Ir, Tete Ellen. Yang manyun di belakang itu Panji. Sayang, Bude Emy dan Tete Endah gak doyan durian. Baunya saja sudah bikin pingsan.
Ini waktu libur panjang. Spesial ke Gunung Pati, dekat rumah Tete Evy dan Om Wawan. Waktu itu sedang musim durian (waks!), rambutan (okelah), dan petai (huaaa).
Langganan:
Postingan (Atom)







