4.7.09

Andin dan Mama


Ini Andin dan mamanya (paling kanan) waktu pengajian. Mana senyumnya, Andin?

18.6.09

Putri dan Mas Boy





Akhirnya menikah juga. Putri dan Mas Boy. Eh, namanya Wahyu tapi Putri mengenalkannya Mas Boy, yo aku melu-melu.

Putri Menikah







Pas ada perlu ke Madiun, pas Putri menikah, Kamis (18/6). Pagi setelah Subuh berangkat. Nyegat bus di pintu masuk perumahan, maunya milih Eka atau Mira, yang lewat Sumber Kencono terus. Wis, gak apa-apa daripada telat. Begitu naik bus, ndonga gak uwis-uwis. Bus mlayu buanter. Sampai di Gereja Oikumene Maospati sudah banyak orang. Pokoknya ada mobil manten ya sudah bener.
Gak sempat ganti baju wong acaranya sudah mulai setengah jalan. Ya wis, tetap pakai jaket, sisiran seadanya, masuk. Motret.
Gak ada yang mengenali kecuali Om Har dan Putri karena aku naik ke altar. Lha kalau gak gitu yo gak dapat foto genah. Baru ketika acara selesai semua ngeh kalau makhluk nglomprot itu aku. Ini foto-fotonya.
Aku tidak ikut pesta di Magetan, tempatnya Mas Boy. Masih ada satu tugas di dekat Madiun yang harus beres sebelum balik ke Surabaya. Ya wis, cepet-cepetan, pulang naik bus Patas. Lumayan, bisa tidur nyenyak setelah sebelumnya kriyip-kriyip terus.

Kalau urutan fotonya kacau gak apa-apa ya. Pokoknya cepat diunggah dulu.

1. Putri dan Mas Boy.
2. Yang Kung alias bapak alias pak puh.
3. Ini rombongan: Dik Ida, Bapak, mama, Dik Desi, Bulik Ti, Bulik Mamik, dan Mami. Mami ini ibunya Diana, istrinya Dik Awang. Ternyata dia adiknya Reni, teman SMP. Anak kecil itu anaknya Dik Agung yang ikut Bulik Ti.
4. Ini Om Ji, anaknya Pak Dono, dan Pak Dono.
5. Yang sendirian ini Doni, anaknya Pak Dono.

28.3.09

Tim Superbesar





Ini tim superbesar ketika Om Har menikah. Kemarin belum sempat mengunggah foto sudah nguantuuuk. Pukul 01.30 tadi pagi menyerah. Sekarang dilanjut lagi.

Om Har Menikah





Terkaget-kaget melihat tujuh orang berseragam turun dari kendaraan di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan Pasamuan Darmo, Surabaya, Jumat (27/3). Ternyata mereka tim kecil yang besar. Ervan cs.
Hari itu Om Har menikah dengan Tante Sumarenny. Beberapa hari sebelumnya saya telepon Om Har dan menyatakan dukungan penuh. Pokoknya apa yang bisa membuat Om Har bahagia tentunya juga menular kepada anak-anak dan sekitarnya. Dan Om Har memang bahagia meskipun ketika pemberkatan nikah menangis.
Tim kecil dari Tante Renny --begitu disapa-- terdiri dari dua anak dan satu calon menantu. Tim besar dari Om Har terdiri dari tiga anak dan satu calon menantu. Ketika bertemu, mereka benar-benar menjadi tim superbesar.
Pernikahan di gereja sederhana, seperti pernikahan umumnya. Usai pemberkatan, tim superbesar diajak bicara di ruang belakang dan ditegaskan mereka menjadi satu keluarga. Saya ikut karena merasa jadi 'anak pungut' Om har. Lha dulu saya yang jadi pengapit waktu Om Har menikah dengan Bulik Tun (almarhum). Mblendhuk, pakai kemben. Tak jarang Om Har diam-diam memberi uang saku. Apalagi saya melihat masa kecil Ervan cs. Jadi saya merasa 'berhak' ikut mendengarkan nasihat.
Bapak, keluarga Semarang dan keluarga Madiun tak ada yang datang. Kakaknya Om Har dari Kertosono rawuh. Ndak apa-apa, yang penting acara lancar.
Ini sebagian foto waktu di gereja. Agak kabur karena gereja tak begitu terang. Maklum, halaman depan gereja ditutup sementara karena direnovasi. Ada lampu dari perangkat video tetapi itu justru membuyarkan fokus. Jadinya, ya apa adanya.
Selamat ya Om Har dan tim superbesarnya. Ke depan pasti lebih menyenangkan untuk semuanya.
Sayang, saya tidak ikut acara makan-makan di Sabtu (28/3). Sejak pagi mruput sudah ngajar sampai tengah hari langsung ngantor sampai pukul 22.00 WIB. Pulang sore, pukul 22.30 WIB sudah sampai rumah. Langsung mengunggah foto-foto ini.